Mr. Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo, yang selanjutnya disebut Achmad Soebardjo, dilahirkan di Teluk Jambe, Karawang, Jawa Barat, pada 23 Maret 1896. Beliau merupakan putra dari pasangan Teuku Muhammad Yusuf, seorang bangsawan Aceh keturunan ulèëbalang, dan Wardinah, seorang putri camat berdarah Jawa-Bugis. Berasal dari keluarga ningrat, Achmad Soebardjo kecil menempuh pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) dan melanjutkan ke Hogere Burgerschool (HBS) di Jakarta. Minatnya yang mendalam pada ilmu hukum mengantarkannya ke Universitas Leiden, Belanda, tempat ia meraih gelar Meester in de Rechten (Sarjana Hukum) pada 1933. Semasa menjadi mahasiswa, ia telah menunjukkan militansinya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui keikutsertaannya dalam organisasi kepemudaan seperti Jong Java dan Perhimpunan Indonesia (PI). Pada 1927, bersama Mohammad Hatta dan para pemimpin nasionalis lainnya, Achmad Soebardjo menghadiri Kongres Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial di Brussels serta Jerman, sebuah forum internasional yang kelak menjadi saksi bisu atas kiprah diplomasi awalnya.
Selama masa persiapan kemerdekaan, Achmad Soebardjo memainkan peranan penting dalam berbagai badan perumus dasar negara. Keahliannya di bidang hukum mengantarkannya menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1945. Di forum ini, ia menjadi bagian dari Panitia Sembilan yang bertugas merumuskan Piagam Jakarta sebagai cikal bakal Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Setelah BPUPKI dibubarkan dan digantikan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Achmad Soebardjo diangkat menjadi penasihat khusus. Kontribusinya yang paling gemilang terjadi pada detik-detik menjelang proklamasi kemerdekaan. Pasca menyerahnya Jepang kepada Sekutu, terjadi ketegangan antara golongan tua yang lebih berhati-hati dan golongan muda yang revolusioner. Puncak ketegangan tersebut adalah peristiwa "penculikan" Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945. Dalam situasi genting ini, Achmad Soebardjo tampil sebagai juru runding yang ulung. Beliau tidak hanya berhasil meyakinkan golongan muda untuk membawa kembali Soekarno-Hatta ke Jakarta, tetapi juga memberikan jaminan pribadi, bahkan mempertaruhkan nyawanya: apabila proklamasi tidak dilaksanakan keesokan harinya pada 17 Agustus 1945, ia rela ditembak.
Setelah berhasil menjemput Soekarno-Hatta dari Rengasdengklok, Achmad Soebardjo juga berinisiatif meminta izin kepada Laksamana Maeda untuk menggunakan kediamannya di Jalan Imam Bonjol No. 1 sebagai lokasi penyusunan teks proklamasi, sebuah pilihan strategis demi menghindari intervensi Angkatan Darat Jepang yang masih bercokol. Pada malam krusial tersebut, Achmad Soebardjo bersama Soekarno dan Mohammad Hatta merumuskan naskah proklamasi di ruang makan rumah Laksamana Maeda. Dalam agenda perumusan itu, ia turut menyumbangkan gagasan vital yang kemudian menjadi kalimat pertama teks proklamasi: "Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia". Dengan demikian, Achmad Soebardjo tidak sekadar menjadi saksi peristiwa sejarah, melainkan juga menjadi salah satu konseptor yang pemikirannya terpatri langsung dalam naskah sakral pendirian bangsa.
Sehari setelah proklamasi, pada 17 Agustus 1945, Achmad Soebardjo diangkat sebagai Menteri Luar Negeri pertama Republik Indonesia dalam Kabinet Presidensial bentukan Presiden Soekarno. Tugas pertamanya yang monumental dan penuh tantangan adalah membangun Kementerian Luar Negeri dari nol. Dengan segenap dedikasi, ia menyulap kediaman pribadinya di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, menjadi kantor kementerian pertama, lengkap dengan pengawalan pemuda bersenjatakan bambu runcing, serta mencari sendiri staf kementerian melalui iklan di surat kabar. Sebagai Menlu pertama, misi diplomatik terbesarnya adalah melobi negara-negara lain untuk memperoleh pengakuan atas kedaulatan Indonesia yang baru lahir, sekaligus meyakinkan pihak Sekutu bahwa Indonesia telah resmi merdeka. Kiprahnya yang cemerlang di masa-masa awal kemerdekaan ini menempatkan Achmad Soebardjo tidak hanya sebagai diplomat ulung yang berjuang di balik layar, tetapi juga sebagai arsitek utama diplomasi Republik Indonesia. Achmad Soebardjo wafat pada 15 Desember 1978 di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, dalam usia 82 akibat komplikasi flu. Beliau dimakamkan di Cipayung, Bogor, Jawa Barat.